Berapa Harga Website Online Travel Agent?

Saya sering mendapat pertanyaan tentang berapa biaya membangun website online travel agent (atau biasanya disebut dengan travel portal). Seperti yang biasa Anda lihat dan mungkin Anda gunakan juga: Traveloka, Tiket, Booking, Agoda, dan sejenisnya. Meski saya hanya remahan rengginang, namun saya punya pengalaman seputar development online travel agent baik untuk B2C maupun B2B. Jadi, tulisan kali ini akan membedah berapa sih harga website online travel agent itu, agar Anda punya gambaran kasar.

Sering juga jawaban saya mendapat reaksi: “Ah, mahal juga ya!”

Atau, saking kagetnya, lawan bicara saya malah terdiam dan melongo.

Berulang kali saya bilang (Anda jangan bosan ya, sengaja saya ulang-ulang agar terpatri di ingatan), membangun website seperti OTA punya itu tidak murah.

Yang saya maksudkan, adalah membangun from the scratch alias dari nol beneran. Bukan menggunakan aplikasi atau booking engine lain yang trus dipasang plek di website kita.

Apa saja sih komponen website OTA itu? Saya akan coba jabarkan dalam bahasa yang sederhana.

Yang membuat mahal harga website online travel
Dibutuhkan tim development yang lengkap dan berpengalaman yang membuat harga website online travel itu mahal

6 module yang membuat mahal harga website online travel itu

Secara ringkas, Anda (atau tim developer yang Anda percaya) harus membangun yang namanya:

  1. Customer site
    Customer site ini adalah situs yang digunakan oleh customer atau client Anda. Jika model bisnis Anda adalah B2C, maka customer Anda adalah tamu Anda. Jika model bisnis Anda adalah B2B, maka customer Anda adalah sub-agent atau retail travel agent yang mengambil produk dari situs Anda untuk mereka jual ke tamu mereka.

  2. Booking engine
    Booking engine adalah software yang memungkinkan customer Anda memilih dan memesan produk yang Anda tawarkan. Produk ini bisa berupa produk hotel, pesawat, paket tour, sewa mobil, dan lain-lain. Tentu saja, booking engine untuk keperluan pemesanan hotel berbeda dengan booking engine untuk paket tour. Terbayang ‘kan, betapa kompleksnya situs seperti Traveloka yang memiliki bermacam-macam produk?

  3. Backoffice
    Backoffice ini sebutan untuk platform yang digunakan oleh staf perusahaan Anda. Banyak juga yang menyebutnya dengan Admin Site. Pun, banyak yang menyebutnya dengan back-end, namun saya jarang menggunakan istilah back-end agar tidak rancu dengan arti istilah back-end yang sesungguhnya dalam dunia web development.

    Fitur yang tersedia di Backoffice mencakup inventori produk (allotment dan harga), reservasi dari customer, invoicing dan lain-lain.

  4. Extranet
    Untuk memudahkan komunikasi dengan para Supplier yang bekerja sama denagn Anda, biasanya disediakan Extranet, alias platform yang memungkinkan Supplier untuk menginput informasi seputar produk mereka. Informasi ini bisa berupa foto, teks, sampai allotment dan harga.

    Beberapa provider belakangan ini mencampur Backoffice dengan Extranet, jadi hanya ada satu platform Backoffice yang bisa digunakan oleh staf perusahaan untuk keperluan internal, dan juga oleh pihak Supplier. Yang membedakan hanyalah akses sesuai role atau peran pengguna.

  5. Payment gateway
    Empat hal di atas belum cukup karena jaman sekarang, pembayaran pun memerlukan model instant payment. Entah itu dengan kartu kredit, bank transfer baik ke rekening bank biasa atau virtual account, juga pembayaran melalui outlet seperti Alfamart dan Indomaret. Untuk itu diperlukan payment gateway yang menghubungkan situs OTA dengan pihak bank.

  6. API/XML connection dengan third party sesuai kebutuhan
    Untuk melengkapi kelima hal di atas, diperlukan pula development untuk API/XML connection ke berbagai pihak. Misalnya, ke channel manager seperti STAAH. Atau ke pihak maskapai penerbangan seperti Garuda Airlines atau Citilink. Bisa juga koneksi ke wholesaler travel agent seperti Hotelbeds atau MG Holiday.

Sudah terbayang rumitnya, ya? Itu baru garis besar saja, belum dibedah sampai detil ke printilannya.

Jadi tidak usah kaget kalau saya bilang, membangun website seperti OTA punya itu mahal. Saya sendiri biasa memberi patokan 300 juta rupiah hanya untuk development saja (harga bisa berubah sesuai permintaan klien, dan saya yakin banyak yang menganggap harga ini termasuk murah). Dan itu belum termasuk biaya jika diperlukan API/XML connection. Satu connection ke sebuah channel manager, bisa memakan biaya USD 2,000 + biaya bulanan.

Ingat, ratusan juta di atas baru ongkos development alias harga website online travel fitur yang basic, biasanya untuk 1 produk saja misalnya Hotel, dan payment gateway hanya untuk 1 metode pembayaran saja. Kalau mau nambah produk lain, ya nambah biaya lagi.

Belum termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk bayar server tiap bulan. Untuk konten website. Plus pemasaran. Plus biaya tetap seperti gaji karyawan. Dan masih banyak lagi plus plus lainnya.

Jangan dilupakan juga: mobile application. Rasanya mudah dipahami, jaman sekarang di mana orang lebih banyak memegang handphone daripada di depan laptop, mobile application menjadi satu keharusan. Ini perlu biaya lagi, terpisah dari website development.

Anda mungkin tidak percaya bahwa harga website online travel bisa semahal itu. “Ah, banyak tuh yang menawarkan website travel agent kurang dari sejuta rupiah.”

Anda tidak salah.

Namun, website seperti apa yang akan Anda dapat?

Tebakan saya, Anda bisa mengunggah paket tour dan segala deskripsi termasuk harga dan foto-foto yang menarik, namun ketika pengunjung website hendak memesan, hanya ada booking form tempat pengunjung mengisi data-data yang dibutuhkan.

Konfirmasi untuk para tamu Anda akan didapatkan kemudian, setelah email dari booking tersebut mendarat di mailbox Anda, dan Anda menjawab secara manual untuk menyatakan bahwa booking mereka sudah confirmed (atau fully booked).

Inilah perbedaan yang krusial.

Website yang tidak menawarkan instant confirmation, tidak layak disebut sebagai website online travel agent. Itu hanyalah website company profile dan katalog produk.

Demikian juga dengan pembayaran. Website yang murah tidak menyediakan opsi untuk pembayaran instan. Anda harus menghubungi tamu untuk melakukan pembayaran secara manual, baik lewat transfer bank atau lewat Paypal.

Jadi, jika harga sebuah website online travel atau travel portal itu mahal, apa yang harus dilakukan oleh travel agent offline atau travel agent rumahan?

Merujuk ke artikel tentang tujuan website bagi travel agent offline, Anda tetap memerlukan website.

Anda bisa menggunakan booking engine dari provider yang tersedia, dan membayar fee – biasanya berupa persentase dari penjualan yang terjadi.

Anda juga bisa membangun website sendiri menggunakan WordPress yang semakin lama semakin mumpuni.

Seperti apa lengkapnya, dan website yang bagaimana yang bisa Anda andalkan untuk menunjung usaha travel kecil Anda? Kita bahas selengkapnya di tulisan berikutnya. Stay tune!

1 thought on “Berapa Harga Website Online Travel Agent?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *